HeLL-dA’s Words on Press

Archive for the ‘cerpen’ Category

November

Posted on: Agustus 2, 2008

Dinginnya malam tidak mengurungkan niatku unutk menyusuri jalanan sepi ini. Angin malam yang berhembus seakan-akan melantunkan melodi indah di telingaku., ditambah dengan suara gemerisik dedaunan. Aku menarik napas dalam-dalam kemudian menghembuskannya. Ya, menghela napasku seakan-akan jiwa ini keluar dari raga menuju ke suatu tempat yang sangat aku rindukan.

Daun yang berjatuhan dan terseret angin menemani langkahku menapaki jalan ini. Tidak seperti sekarang, dulu biasanya langkahku ini ditemani oleh langkah kaki seseorang yang pernah berjalan denganku di jalan ini. Seseorang yang selalu tersenyum hingga keriput di wajahnya bermunculan sambil menjunjung keranjang di atas kepalanya. Sementara tangan kanannya selalu menggenggam tangan kiriku dan yang kirinya sesekali menahan keranjang yang ada di atas kepalanya.

Lamunanku buyar ketika tiba-tiba ponselku berdering. Kurogoh sakuku dan melihat ada SMS yang ternyata hanya dari customer service provider-ku. Namun sejenak kupandang ponselku hingga membawa anganku kembali ke suatu waktu ketika aku baru membeli ponsel ini. Aku ingat pada waktu itu aku berkeliling kota unutk menjual ponsel bututku hingga malam tiba. Sesampainya di rumah, aku tersenyum pada seseorang yang sering berjalan beriringan di sini menunggu di rumah. Masih kurasakan juga hangat telapak tangannya di ponsel ini.

Anganku pun mulai terbang lebih jauh lagi hingga tiba-tiba terdengar olehku suara ribut dari sebuah rumah yang tepat berada di sampngku. Rumah itu hanya berdindingkan papan di bagian depannya sehingga telingaku mampu menangkap getaran suara itu. Kemudian aku berhenti sejenak, kucoba unutk mendengar lebih saksama, ternyata ada pertengkaran, mungkin antara suami-isteri. Terdengar juga olheku suara tangisan anak-anak. Aku menghela napas lagi, kemudian berbisik pada diri sendiri, “Ternyata mereka lebih parah.”

Langkahku aku lanjutkan menapaki jalan selanjutnya yang sedikit berbatu dan melewati kegelapan yang sepertinya tiada ujung. Wajahku menengadah ke langit itu. Kulihat satu bintang kecil yang berkilauan di tengah-tengah gelapnya langit, kemudian tersenyum. Bintang kecil itu kelihatannya tersenyum riang padaku. Langit yang benar-benar gelap tidak dia pedulikan. Mungkin dia menyadari walau kegelapan biasanya diidentikkan dengan sesuatu yang buruk tetapi sebenarnya langit gelap itu bisa membuatnya tampak berkilauan. Melihat bintang kecil itu, mengingatkanku lagi pada seseorang itu lagi, seorang wanita yang selalu dapat tersenyum lembut dan tertawa lepas layaknya kapas yang terbang terbawa hembusan udara seperti tidak ada beban yang dia bawa, walaupun dia tahu dia akan ditelen oleh kegelapan itu suatu saat. Beberapa waktu dia masih bisa bertahan dalam kegelapan, namun seiring waktu berjalan, kakinya tidak lagi kokoh sama seperti pilar yang rusak oleh karena cuaca semakin buruk. Sekarang jangankan mencoba untuk menerobos kegelapan dengan meraba-raba, satu langkah saja puun tak mampu dia ciptakan. Dia hanay bisa terdiam membisu, tak ada tawa maupun tangis.

Masih kuhafal setiap detail raut wajahnya sewaktu berada di rumah sakit. Kulitnya mulai menipis hingga tulang-tulang dalam tubuhnya menonjol dan matanya sayu tidak menunjukkan ekspresi. Yang kulihat dari matanya hanyalah kekosongan yang sepertinya dia pun menyadari bahwa dia akan merasakan kehampaan itu. Kemudain tampak juga rambutnya mulai menipis sampai-sampai kulit kepalanya kelihatan. Uban merajai rambut di kepalanya dan rambutnya kering.

Waktu itu aku menjenguknya di ruamh sakit. Dia memintaku menyisir rambutnya dan menaburi bedak di leher dan punggungnya yang tidak lagi mulus. Ada banyak bitilan kecil di daerah leher dan punggungnya, kata perawat itu karena dia kurang bersih jadi punggungnya harus dilap dan ditaburi bedak agar bintilan-bintilan kecil itu menyingkir. Sembari aku menyisir rambutnya dan menaburi bedak, dia hanya diam. Jika aku bertanya sesuatu, dia hanya mengangguk atau menjawab dengan suara yang samar-samar. Getaran suaranya yang dulu lantam sekarang hampir tidak mampu ditangkapoleh telingaku.

“Aduh!” tiba-tiba sebuah batu kecil membuatku tersandung dan jatuh. Kulihat lututku sedikit terluka, lalu aku pun duduk di jaln itu. Kuturunkan ransel dari punggungku dan mengambil plester di salah satu kantongnya. Selagi mengambil plester dan menempelkannya pada lututku, aku kembali menengadah ke langit. Kucari-cari bintang kecil tadi apakah dia masih berada di atas sana, namun tidak kutemukan. Langit semakin gelap tanpa satu bintang pun. Bintang kecil tadi mungkin kesepian di sana sementara tenaganya mulai surut sehingga tidak ada yang membantunya untuk bertahan dan akhirnya tenggelam dalam kegelapan malam.

Setelah selesai menempelkan plester, aku pun mencoba untuk berdiri dengan kekuatanku sendiri. Biasanya wanita itu selalu membantuku berdiri jika aku terjatuh dan tidak lupa membersihkan lukaku sebelumnya, bahkan sampai aku sebesar sekarang ini. Aku tersenyum sendiri mengingat itu. Namun ekspresi wajahku seketika berubah ketika mengingat bintang yang hilang tadi. Seiring waktu berlalu, sama seperti bintang itu, cahaya yang dulu terpancar begitu kuat dari dalam diri wanita itu semakin redup. Ingatanku kembali ke suatu subuh ketika aku melewati jalanan kota yang masih sepi menuju rumah sakit tempat wanita itu dirawat. Sesampainya di sana, aku hanya bisa memandangi dia tidajk sadar menggigit-gigiti bibirnya sendiri, terdengar juga suara gemeretak giginya. Ketika dia terbangun, dia seperti tidak mengingat apapun lagi. Aku masih ingat dia bertanya pada kami kalau dia sedang berada di mana. Aku curiga apakah benar dia tidak sadar kalau dia di rumah sakit. Mengapa dia bertanya seperti itu? Aku mengambil persepsi kalau sebenarnya dia seperti itu karena hasratnya ingin keluar dari tempat ini dan bangkit kembali mungkin akan sulit dia gapai.

Jiwaku semakin takut wakut itu, takut kalau-kalau kehampaan itu akan menghampirinya. Rasa takut ini semakin bertambah ketika dia bercerita tentang mimpinya bahwa da yang mengejar-ngejar dia untuk membunuhnya. Pada saat itu aku berharap kalau itu buka suatu pertanda buruk, waalu sebenarnya batin ini telah dipenuhi rasa takut. Tetapi kucoba untuk mengacuhkannya. Aku pun pulang. Namun masih ada sesuatu yang mengganjal di hati ini, yaitu ekspresi wajahnya ketika melihat aku!

Pada hari itu juga ternyata semua yang kukhawatirkan terjadi. Sering terpikirkan olehku namun aku tak pernah menyangka ini akan terjadi. Pilar yang mulai goyah oleh karena retakan-retakan yang disebabkan cuaca buruk itu akhirnya roboh juga, matanya yang dahulu bersinar akhirnya harus tertutup oleh kegelapan, telapak tangannya yang begitu hangat kini menjadi dingin, suaranya yang lantam sekarang tak lagi terucao dari bibirnya, telinganya yang selalu mendengar rengekanku tidak bisa lagi mendengar apapun, tidak ada perasaan apapun lagi padanya dan semua belenggu telah lepas darinya. Ah! Begitu bahagianya dia, pikirku. Padahal, aku berencana akan kembali menemui dia. Pakaian-pakaiannya yang akan dia kenakan esok hari telah kusiapkan dalam tasku. Namun, ternyata semua tidak berguna lagi ketika ponselku berdering. Ada perasaan begitu bersalah yang berkecamuk dalam dada. Kenapa aku tidak menemaninya tadi? Dan kenapa aku mengucapkan kata itu tadi siang pada temanku?

“Mati!” Ya, kata itu yang tanpa kusadari keluar dari mulut ini ketika temanku bertanya mengapa wanita yang adalah ibuku itu tidak ikut mengantar aku, sementara yang lain bersama ibunya.

Namun, semua telah berakhir! Banyak yang disesali namun tak dapat diperbaiki. Meskipun dapat diperbaiki, mungkin hanya diri sendiri saja yang mengetahui. Aku kembali menghele napas dan memandang jauh ke depan.

Life must go on!” kataku dalam hati, “But how will life go on if there is not her with us?”

Dari kejauhan telah tampak gubuk deritaku. Orang sering bilang, “biar jelek milik sendiri”. Tetapi itu tidak berlaku bagi keluargaku. “Yang jelek pun bukan milik sendiri!” Ya, jangka waktu kontrakan rumah akan habis bulan ini. Sementara itu, biaya sekolahku dan adik-adikku pun belum dibayar. Kemudian, utang-utang ibu juga belum terlunaskan. Sering aku berandai-andai kalau saja ibu masih hidup pasti tidak akan seperti ini jadinya dan bibir-bibir yang bergunjing setelah kematian ibu tidak kan menggetarkan daun telingaku, lalu wajah-wajah mereka juga tidak akan menunjukkan ekspresi sinis padaku. Aku tahu bahwa ibu bukanlah sosok yang sesempurna yang kubayangkan selama ini, tetapi kesempurnaan yang kubayangkan selama ini tetap nyata bagiku.

Aku mengetuk pintu rumah dan segera seyelah itu adik perempuanku membukakannya kemudai bertanya denga nada yang agak keras, “Kok lama kali kau pulang?”

“Tadi masih banyak yang harus dikerjakan,” jawabku.

“Tapi kan kau bisa kasih tahu…!” bentaknya.

“Maaf!” balasku.

Setelah itu tidak kugubris lagi perkataannya. Aku masuk ke dalam kamar kemudia tidur dia atas tikar yang mungkin tadi digelar oleh adikku itu. Kuselimuti seluruh tubuhku dengan sarung yang beberapa bagiannya berlubang karena dulu pernah gosong terkena setrika. Kemudian aku pun menutup mata dan tidak menghiraukan ocehan-ocehannya. Sebelum pikiranku terbang, sempat juga pikiran ini singgah ke ayah yang belum pulang dari tempat kerjanya, lalu pikiran ini juga singgah agak lama ke adik laki-lakiku yang entah di mana sekarang. Masih kuingat kata-katanya tadi siang, “Jangan cari aku lagi!”

Dia bolos sekolah selama ini. Aku heran, kok dia tega sekali berbuat itu berkali-kali. Apa yang telah meracuni pikirannya? Tanyaku dalam hati. Tapi, yang paling aku khawatirkan adalah ayah. Dia pasti sedih sekali anak laki-lakinya tidak bisa membantu dia dan diajak untuk mengobrol.

Sejuta kecemasan memenuhi pikiranku sehingga kucoba untuk membuangnya walau hanya sementara waktu. Lalu untuk terakhir kalinya, kuhela napasku kemudian menerbangkan anganku semabari mengucapkan dalam hati kata-kata yang meringankan gundah dalam batin dan mungkin bahkan menenangkan cacing-cacing yang telah berunjuk rasa di dalam perut ini: “Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari.”

……………………

Rintik-rintik hujan mengiringi ketukan-ketukan yang diciptakan oleh penaku. Aku duduk termenung menatap ke arah radio butut yang dari tadi mengeluarkan suara samar-samar. Kemudian melirik ke arah cerpenku yang belum juga selesai. Memandangi kata-kata berbaris bagaikan semut itu membuatku mengantuk. Oleh karena itu, kuputuskan untuk beranjak dari kursiku untuk membuyarkan semua rasa kantuk itu. Kuputar pinggangku ke kanan dan ke kiri, menepuk bokongku yang terasa panas karena sudah berjam-jam duduk lalu berjalan ke dapur.

Aku membuat secangkir kopi dan sembari aku mengaduk bubuk kopi dan gula dalam air panas, kulayangkan pandanganku ke kamar kosong dan gelap yang beberapa bagiannya dikuasai oleh sarang laba-laba. Tidak ada seorang pun menghuni kamar ini. Hanyalah ayah yang sesekali masuk ke dalam. Sebelum aku kembali ke mejaku sambil membawa cangkir berisi kopi, mataku sempat mengerling ke arah televisi, VCD, dan loudspeaker-barang hasil jerih payah ibu. Sesampainya di depan meja, aku menengadah sebentar ke arah jam dinding yang telah menunjukkan pukul sepuluh malam dan kemudian duduk. Kutelusuri lagi cerpenku mulai dari awal sampai kata terakhir yang kutulis, bingung akan meneruskan ceritanya. Inspirasi berhenti karena rasa kantuk masih terus menyerangku meski telah meminum kopi. Beberapa kali aku menguap. Belum sempat aku meletakkan kepala di atas kedua lenganku yang saling bertopang di atas meja, ada seseorang yang mengetuk pintu rumah sehingga rasa kantuk pun kembali buyar.

Aku beranjak dari tempat duduk dan membuka pintu.

“Bapaknya ada, Dek?” tanya pria yang menurutku umurnya sudah sekitar 30-an itu sambil menyunggingkan senyuman.

“Bapak belum pulang. Mau nagapain ya, Pak?” aku berbalik tanya.

“Mau mengambil sepatu. Katanya kemarin kan datangnya malem-malem aja,” ucapnya sesuai dengan dugaanku.

“Yang mana?” tanyaku lagi sambil mepersilahkan masuk. Kemudian dia mengambil salah satu sepatu dari atas mesin jahit di sampingku.

“Rupanya belom siap, Dek!” keluhnya, “Nanti tolong dikasih tahu ya sama bapak.”

Aku hanya mengangguk.

“Adek nggak malem taon baru-an?” dia bertanya kembali.

Aku hanya menggeleng.

“Masa sih?!” tanyanya seperti menggoda, “Tapi bapaknya malam taon baru-an ya…” ledeknya sambil tersenyum genit.

Apa sih orang ini! Kataku dalam hati. Kemudian hanya bisa menyunggingkan senyuman yang sedikit pahit.

“Kalau begitu jangan lupa bilang ya kalau orang punya sepatu ini tadi datang,” ucapnya mengakhiri sembari keluar dari rumah. Aku pun turut mengikutinya. Dia men-starter motornya yang diparkirkan di depan rumah sambil menganggukkan kepala tanda permisi. Seraya aku melemparkan senyuman pada orang tersebut, pandanganku menerawang ke segala sisi jalan yang kosong-melompong, langit malam yang begitu gelap saat itu.

Kuletakkan tanganku pada gagang pintu, kudorong pintu itu dan kemudian menguncinya dengan menarik engsel pintu ke kiri. Setelah itu kembali duduk di depan mejaku. Aku mendongak ke kamar tempat dua adikku tertidur lelap. Karena mejaku berada tepat di samping kiri pintu kamar sehingga memudahkanku untuk memperhatikan mereka.

Mereka pasti lapar, pikirku. Tapi apa boleh buat, ayah tak kunjung pulang sampai jarum jam telah menunjuk ke angka sepuluh lewat. Kutatap adik laki-lakiku lebih dalam. Dia tertidur begitu lelap seakan semua dosa telah lepas dari dirinya. Setiap hembusan napas yang dia keluarkan terikut juga dosanya keluar dari raga. Seandainya dia selalu seperti ini, anganku. Seharian ini dia di rumah saja tidak seperti biasanya. Aku selalu bertanya mengapa dia tidak bisa berubah. Tetapi seraya pertanyaan itu sering muncul di benakku, aku sadar bahwa tidak mudah untuk hidup sebagai dirinya. Aku tahu bahwa dia berada di bawah tekanan. Jika dia tidak melakukannya, dia akan diancam oleh teman-temannya, sebaliknya jika dia melakukannya dia selalu disudutkan di rumah. Sementara harus diakui ayah pun tak memberi contoh yang baik. Memikirkan hal ini, aku pun teringat akan kata-kata orang tadi, “Tapi bapaknya malam taon baru-an ya…”

Sewaktu mendengar kalimat itu terucap dari bibir hitam itu, darah dalam jantungku seakan memuncrat ke seluruh organ tubuh lainnya, air mata juga ingin mengalir melintasi kulit berminyak ini.

Sebelum aku terhanyut dalam lautan ini, tiba-tiba ponselku berdering membuat aku kembali terapung ke atas permukaan. Kulihat nomor yang tidak kukenal di layar, kemudian dengan perlahan jempolku menekan tombol untuk menjawab panggilan masuk tersebut.

“Halo…” jawabku.

“Di mana bapak??” tanya seorang pria dari sana dengan logat Bataknya.

“Eee… Bapak belum pulang kerja.”

“Kok selalu dia nggak di rumah! Apa mau cari mati dia?!” tiba-tiba dia berkata dengan nada kasar dan kemudian melanjutkan kalimatnya, “Bilang sama bapak, kalau dia mau cara baik-baik jumpai ke tempatku!”. Ditutupnya telepon namun tidak kutanya siapa dia karena aku sudah tahu.

Setelah itu posel itu kuletakkan kembali di atas meja. Sebelumnya aku menyimpan nomor HP yang masuk tadi agar suatu saat aku tahu itu nomor siapa. Tidak mau aku terlalu mencerna kalimat-kalimat tajam tadi. Dia tak sepantasnya berkata seperti itu. Ingin sekali tadi aku mengatakan, “Tunggu saja mama kembali dari kuburnya untuk membayar utang itu!”

Mereka semua tidak peduli dengan semua kesulitan yang kami hadapi. Apalagi sejak ibu meninggal, mereka menjadi seperti pembantai yang haus darah. Senyuman mereka seketika hilang dari bibirnya. Wajah dingin seperi es beku tak teretakkan menguasai. Ah! Pusing sekali mengingat-ingat ekspresi wajah mereka, pikirku.

Aku mencoba mengacuhkan hal-hal itu. Kuambil buku pelajaranku dan kucoba-coba mengerjakan soal-soal yang tercetak di atas lembaran-lembaran putih itu. Seraya mengerjakan soal-soal yang masih sanggup otakku tafsirkan, senyumku terbit mengingat ujian semester beberapa minggu lalu dapat kuikuti walau administrasi di sekolah belum terlunaskan. Namun meski demikian, tetap saja administrasi sekolah yang belum terselesaikan itu terasa bagaikan kuk berat yang membuat pundak ini makin membungkuk. Terkadang terpikirkan untuk menjual barang-barang hasil jerih payah ibu itu. Tetapi kalau itu dilakukan, rasa bersalah mungkin akan menutupi hati selamanya.

“Apapun yang terjadi, barang-barang yang telah jadi milik sendiri berusahalah mempertahankannya. Jangan pernah menjual apa yang telah dimiliki, itu bukan penyelesaian,” kalimat itu terngiang di telingaku. Sementara kalimat itu masih menetap, lantunan melodi dari radio yng tadinya mayor disikut oleh nada-nada minor. Aku berhenti mengerjakan soal-soal tadi. Otakku sudah tidak sanggup mengelola angka-angka itu. Oleh karena itu, kualihkan perhatianku pada cerpen yang belum kuselesaikan. Sebenarnya aku tidak tahu akan melanjutkan cerita ini karena cerpen ini menyangkut tentang kelanjutan kehidupanku. Ada konflik yang saling berseteru satu sama lain. Aku bingung apakah akan berakhir bahagia ataukah semuanya harus terperosok ke dalam jurang kekelaman.

Tanpa sadar pertanyaan yang terus menerawang di pikiran ini tiba-tiba pecah dan hilang begitu saja ketika muncul suara yang begitu menggelegar sampai-sampai dinding begitu juga aku bergetar. Itu adalah suara khas motor tua ayah. Kugerakkan bola mataku dan juga kepalaku ke arah jam dinding yang telah menunjukkan pukul sebelas. Tubuhku berdiri sigap dan langsung beranjak dari tempatku menuju pintu. Tangan ini seperti dipenuhi tenaga yang meluap-luap, hati juga begitu senang akhirnya ayah pulang.

“Belum tidur kau, Boru?” tanya ayah lembut dari atas motornya dengan sebuah kantongan plastik besar berwarna hitam di pegangannya. Aku juga melihat senyuman-senyuman hangat menyapaku. Mereka adalah teman-teman ayah dan ibu.

“Halo! Kami tadi sengaja kemari karena bapak datang ke rumah. Kalian sudah makan?” kakek tua yang masih gagah itu menyapa.

“Belum…” jawabku tersenyum sembari menghitung ada enam orang yang ternyata datang.

Rumah yang begitu sepi tadinya kini telah ramai. Adik-adikku yang tadinya tertidur pulas sekarang begitu asyik mengobrol dengan teman-temannya. Betapa bahagianya diri ini. Namun tak terasa satu jam berlalu, mereka pamitan pulang. Kami semua pun keluar dari rumah mengantar tamu kami sampai ke teras. Senyuman masi melekat di bibir mereka seraya mereka menghilang.

Ayah berdiri di sebelahku sekarang. Tercium olehku badannya mengeluarkan aroma nira yang difermentasikan atau yang dikenal dengan tuak. Tapi ya sudahlah, pikirku. Kemudian melayangkan pandangan ke langit yang bertabur percikan-percikan kembang api. Langit malam yang begitu gelap akhirnya dipenuhi warna. Semua kekhawatiran yang tadinya sempat menguasai pikiranku dipecahkan oleh senyuman-senyuman hangat itu dan pastinya ayah yang telah pulang. Senyumku pun ikut mengembang seraya kalimat ini melintas di benakku: “Selama kita memilki kenangan, ‘kemarin’ itu ada. Selama kita memiliki harapan, ‘besok’ menunggu kita.” Ya, besok itu telah di genggamanku! Tidak usah pikirkan ending cerita ini seperti apa. Yang lalu memang masih tetap berada di hati, namun ‘besok’ itu memacuku untuk tetap bertahan agar aku dan semuanya tidak terperosok ke dalam jurang kekelaman.


Logo Lomba Blog Remaja Kisara 2008

Dokumen

Stat (Agt'08)

  • 58.607 pengamat

Add to Technorati Favorites web stats PageRank Bloggerian
 Top Hits My BlogCatalog BlogRank 100 Blog Indonesia Terbaik

Click-click

Yuk.Ngeblog.web.id Blog Kisara

Recent Readers

View My Profile View My Profile View My Profile View My Profile View My Profile

RSS Auto Car

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS Blog Remaja

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS Beasiswa Scholarships

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS Curhat Online

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS Grill Recipes

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

Twitter Update