HeLL-dA’s Words on Press

TUTUR

Posted on: Agustus 22, 2008

Dalam perjalanan ke tempat kerja hari ini, kebetulan memang saya tinggal di tempat yang masih memiliki sifat kedaerahan. Daerah yang saya tempati sekarang ini adalah mayoritas suku Batak Karo. [Biasanya masyarakat Karo yang saya temui, mereka tidak terlalu suka disebut Batak. Menurut mereka Karo itu berbeda dengan Batak]. Sewaktu di angkot itu, saya mendengar wanita lansia dan seorang pria lansia juga sedang bercengkarama. Mereka sibuk menentukan “tutur” mereka. Sebenarnya saya tidak begitu tahu arti “tutur” dalam bahasa Indonesia. Tapi yang pasti, tutur itu seperti panggilan seseorang terhadap yang lainnya begitu juga sebaliknya didasarkan pada marga mereka jika dihubungkan.

Sembari mendengar mereka saling ber-tutur, saya jadi sadar kalau saya masih belum paham betul bagaimana hubungan marga yang satu dengan yang lainnya. Belum lagi kalau marga yang satu dari Batak Toba atau mungkin yang lainnya sedangkan yang lainnya dari Karo maupun Batak-Batak yang lainnya. Argh!

Pertanyaan yang selalu menyinggahi benak saya adalah: “Kok bisa banyak sekali ya marga-marga ini? Jadi bingung aku…”

Untungnya saya memang berupaya untuk menghapal hubungan marga yang satu dengan yang lainnya. Saya juga tahu beberapa istilah-istilah beberapa marga. Contohnya sejak kelas 1 SMP, saya paling hafal dengan satu istilah ini yaitu “parna”, “parna” itu seperti grup. Beberapa marga yang masuk ke dalamnya baik dari Karo, Simalungun dan Batak Toba adalah Ginting, Simbolon, Saragih, Sitanggang. Hanya itu yang ada di memori saya. Kemudian untuk marga saya sendiri (kalau untuk perempuan sebenarnya disebut “boru” dalam bahasa Batak dan “beru” dalam bahasa Karo, yang saya tahu marga saya ini jika dimasukkan ke dalam Karo akan sama dengan marga Karo-Karo.

Mulai dari lingkungan saya yang dulu baik di sekolah ataupun di rumah sampai di daerah saya yang sekarang, masih banyak remaja yang tahu mengenai paling tidak marga mereka masing-masing namun banyak juga yang tidak mengerti hal tersebut.

Mungkin, bukan mungkin lagi, tapi harus! Orang tua harus menanamkan nilai-nilai budaya mereka dan mengajarkan asal-usul mereka. Namun seraya bertambahnya umur anak-anak menjadi remaja, sering kali mereka tidak peduli terhadap hal-hal tersebut. Akibatnya di masa depan, mungkin ada yang buta sama sekali dengan apa yang disebut dengan “tutur” tersebut sehingga mereka menikah dengan seseorang yang seharusnya tidak boleh mereka nikahi menurut adat.

Memang di era globalisasi sekarang ini, mungkin ada yang berpendapat bahwa hal itu tidak penting. Asal dia tidak menikah dengan saudara kandungnya sendiri, tak apalah! Namun, sungguh disayangkan bukan? Nilai-nilai budaya yang seharusnya dilestarikan malah harus punah.

http://www.expat.or.id/images/sittingonfloor.jpg

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Logo Lomba Blog Remaja Kisara 2008

Dokumen

Stat (Agt'08)

  • 55,158 pengamat

Add to Technorati Favorites web stats PageRank Bloggerian
 Top Hits My BlogCatalog BlogRank 100 Blog Indonesia Terbaik

Click-click

Yuk.Ngeblog.web.id Blog Kisara

Recent Readers

View My Profile View My Profile View My Profile View My Profile View My Profile

RSS Beasiswa Scholarships

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS Curhat Online

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS Grill Recipes

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

Twitter Update

%d blogger menyukai ini: