HeLL-dA’s Words on Press

Desember Tanpa Ending

Posted on: Agustus 2, 2008

Rintik-rintik hujan mengiringi ketukan-ketukan yang diciptakan oleh penaku. Aku duduk termenung menatap ke arah radio butut yang dari tadi mengeluarkan suara samar-samar. Kemudian melirik ke arah cerpenku yang belum juga selesai. Memandangi kata-kata berbaris bagaikan semut itu membuatku mengantuk. Oleh karena itu, kuputuskan untuk beranjak dari kursiku untuk membuyarkan semua rasa kantuk itu. Kuputar pinggangku ke kanan dan ke kiri, menepuk bokongku yang terasa panas karena sudah berjam-jam duduk lalu berjalan ke dapur.

Aku membuat secangkir kopi dan sembari aku mengaduk bubuk kopi dan gula dalam air panas, kulayangkan pandanganku ke kamar kosong dan gelap yang beberapa bagiannya dikuasai oleh sarang laba-laba. Tidak ada seorang pun menghuni kamar ini. Hanyalah ayah yang sesekali masuk ke dalam. Sebelum aku kembali ke mejaku sambil membawa cangkir berisi kopi, mataku sempat mengerling ke arah televisi, VCD, dan loudspeaker-barang hasil jerih payah ibu. Sesampainya di depan meja, aku menengadah sebentar ke arah jam dinding yang telah menunjukkan pukul sepuluh malam dan kemudian duduk. Kutelusuri lagi cerpenku mulai dari awal sampai kata terakhir yang kutulis, bingung akan meneruskan ceritanya. Inspirasi berhenti karena rasa kantuk masih terus menyerangku meski telah meminum kopi. Beberapa kali aku menguap. Belum sempat aku meletakkan kepala di atas kedua lenganku yang saling bertopang di atas meja, ada seseorang yang mengetuk pintu rumah sehingga rasa kantuk pun kembali buyar.

Aku beranjak dari tempat duduk dan membuka pintu.

“Bapaknya ada, Dek?” tanya pria yang menurutku umurnya sudah sekitar 30-an itu sambil menyunggingkan senyuman.

“Bapak belum pulang. Mau nagapain ya, Pak?” aku berbalik tanya.

“Mau mengambil sepatu. Katanya kemarin kan datangnya malem-malem aja,” ucapnya sesuai dengan dugaanku.

“Yang mana?” tanyaku lagi sambil mepersilahkan masuk. Kemudian dia mengambil salah satu sepatu dari atas mesin jahit di sampingku.

“Rupanya belom siap, Dek!” keluhnya, “Nanti tolong dikasih tahu ya sama bapak.”

Aku hanya mengangguk.

“Adek nggak malem taon baru-an?” dia bertanya kembali.

Aku hanya menggeleng.

“Masa sih?!” tanyanya seperti menggoda, “Tapi bapaknya malam taon baru-an ya…” ledeknya sambil tersenyum genit.

Apa sih orang ini! Kataku dalam hati. Kemudian hanya bisa menyunggingkan senyuman yang sedikit pahit.

“Kalau begitu jangan lupa bilang ya kalau orang punya sepatu ini tadi datang,” ucapnya mengakhiri sembari keluar dari rumah. Aku pun turut mengikutinya. Dia men-starter motornya yang diparkirkan di depan rumah sambil menganggukkan kepala tanda permisi. Seraya aku melemparkan senyuman pada orang tersebut, pandanganku menerawang ke segala sisi jalan yang kosong-melompong, langit malam yang begitu gelap saat itu.

Kuletakkan tanganku pada gagang pintu, kudorong pintu itu dan kemudian menguncinya dengan menarik engsel pintu ke kiri. Setelah itu kembali duduk di depan mejaku. Aku mendongak ke kamar tempat dua adikku tertidur lelap. Karena mejaku berada tepat di samping kiri pintu kamar sehingga memudahkanku untuk memperhatikan mereka.

Mereka pasti lapar, pikirku. Tapi apa boleh buat, ayah tak kunjung pulang sampai jarum jam telah menunjuk ke angka sepuluh lewat. Kutatap adik laki-lakiku lebih dalam. Dia tertidur begitu lelap seakan semua dosa telah lepas dari dirinya. Setiap hembusan napas yang dia keluarkan terikut juga dosanya keluar dari raga. Seandainya dia selalu seperti ini, anganku. Seharian ini dia di rumah saja tidak seperti biasanya. Aku selalu bertanya mengapa dia tidak bisa berubah. Tetapi seraya pertanyaan itu sering muncul di benakku, aku sadar bahwa tidak mudah untuk hidup sebagai dirinya. Aku tahu bahwa dia berada di bawah tekanan. Jika dia tidak melakukannya, dia akan diancam oleh teman-temannya, sebaliknya jika dia melakukannya dia selalu disudutkan di rumah. Sementara harus diakui ayah pun tak memberi contoh yang baik. Memikirkan hal ini, aku pun teringat akan kata-kata orang tadi, “Tapi bapaknya malam taon baru-an ya…”

Sewaktu mendengar kalimat itu terucap dari bibir hitam itu, darah dalam jantungku seakan memuncrat ke seluruh organ tubuh lainnya, air mata juga ingin mengalir melintasi kulit berminyak ini.

Sebelum aku terhanyut dalam lautan ini, tiba-tiba ponselku berdering membuat aku kembali terapung ke atas permukaan. Kulihat nomor yang tidak kukenal di layar, kemudian dengan perlahan jempolku menekan tombol untuk menjawab panggilan masuk tersebut.

“Halo…” jawabku.

“Di mana bapak??” tanya seorang pria dari sana dengan logat Bataknya.

“Eee… Bapak belum pulang kerja.”

“Kok selalu dia nggak di rumah! Apa mau cari mati dia?!” tiba-tiba dia berkata dengan nada kasar dan kemudian melanjutkan kalimatnya, “Bilang sama bapak, kalau dia mau cara baik-baik jumpai ke tempatku!”. Ditutupnya telepon namun tidak kutanya siapa dia karena aku sudah tahu.

Setelah itu posel itu kuletakkan kembali di atas meja. Sebelumnya aku menyimpan nomor HP yang masuk tadi agar suatu saat aku tahu itu nomor siapa. Tidak mau aku terlalu mencerna kalimat-kalimat tajam tadi. Dia tak sepantasnya berkata seperti itu. Ingin sekali tadi aku mengatakan, “Tunggu saja mama kembali dari kuburnya untuk membayar utang itu!”

Mereka semua tidak peduli dengan semua kesulitan yang kami hadapi. Apalagi sejak ibu meninggal, mereka menjadi seperti pembantai yang haus darah. Senyuman mereka seketika hilang dari bibirnya. Wajah dingin seperi es beku tak teretakkan menguasai. Ah! Pusing sekali mengingat-ingat ekspresi wajah mereka, pikirku.

Aku mencoba mengacuhkan hal-hal itu. Kuambil buku pelajaranku dan kucoba-coba mengerjakan soal-soal yang tercetak di atas lembaran-lembaran putih itu. Seraya mengerjakan soal-soal yang masih sanggup otakku tafsirkan, senyumku terbit mengingat ujian semester beberapa minggu lalu dapat kuikuti walau administrasi di sekolah belum terlunaskan. Namun meski demikian, tetap saja administrasi sekolah yang belum terselesaikan itu terasa bagaikan kuk berat yang membuat pundak ini makin membungkuk. Terkadang terpikirkan untuk menjual barang-barang hasil jerih payah ibu itu. Tetapi kalau itu dilakukan, rasa bersalah mungkin akan menutupi hati selamanya.

“Apapun yang terjadi, barang-barang yang telah jadi milik sendiri berusahalah mempertahankannya. Jangan pernah menjual apa yang telah dimiliki, itu bukan penyelesaian,” kalimat itu terngiang di telingaku. Sementara kalimat itu masih menetap, lantunan melodi dari radio yng tadinya mayor disikut oleh nada-nada minor. Aku berhenti mengerjakan soal-soal tadi. Otakku sudah tidak sanggup mengelola angka-angka itu. Oleh karena itu, kualihkan perhatianku pada cerpen yang belum kuselesaikan. Sebenarnya aku tidak tahu akan melanjutkan cerita ini karena cerpen ini menyangkut tentang kelanjutan kehidupanku. Ada konflik yang saling berseteru satu sama lain. Aku bingung apakah akan berakhir bahagia ataukah semuanya harus terperosok ke dalam jurang kekelaman.

Tanpa sadar pertanyaan yang terus menerawang di pikiran ini tiba-tiba pecah dan hilang begitu saja ketika muncul suara yang begitu menggelegar sampai-sampai dinding begitu juga aku bergetar. Itu adalah suara khas motor tua ayah. Kugerakkan bola mataku dan juga kepalaku ke arah jam dinding yang telah menunjukkan pukul sebelas. Tubuhku berdiri sigap dan langsung beranjak dari tempatku menuju pintu. Tangan ini seperti dipenuhi tenaga yang meluap-luap, hati juga begitu senang akhirnya ayah pulang.

“Belum tidur kau, Boru?” tanya ayah lembut dari atas motornya dengan sebuah kantongan plastik besar berwarna hitam di pegangannya. Aku juga melihat senyuman-senyuman hangat menyapaku. Mereka adalah teman-teman ayah dan ibu.

“Halo! Kami tadi sengaja kemari karena bapak datang ke rumah. Kalian sudah makan?” kakek tua yang masih gagah itu menyapa.

“Belum…” jawabku tersenyum sembari menghitung ada enam orang yang ternyata datang.

Rumah yang begitu sepi tadinya kini telah ramai. Adik-adikku yang tadinya tertidur pulas sekarang begitu asyik mengobrol dengan teman-temannya. Betapa bahagianya diri ini. Namun tak terasa satu jam berlalu, mereka pamitan pulang. Kami semua pun keluar dari rumah mengantar tamu kami sampai ke teras. Senyuman masi melekat di bibir mereka seraya mereka menghilang.

Ayah berdiri di sebelahku sekarang. Tercium olehku badannya mengeluarkan aroma nira yang difermentasikan atau yang dikenal dengan tuak. Tapi ya sudahlah, pikirku. Kemudian melayangkan pandangan ke langit yang bertabur percikan-percikan kembang api. Langit malam yang begitu gelap akhirnya dipenuhi warna. Semua kekhawatiran yang tadinya sempat menguasai pikiranku dipecahkan oleh senyuman-senyuman hangat itu dan pastinya ayah yang telah pulang. Senyumku pun ikut mengembang seraya kalimat ini melintas di benakku: “Selama kita memilki kenangan, ‘kemarin’ itu ada. Selama kita memiliki harapan, ‘besok’ menunggu kita.” Ya, besok itu telah di genggamanku! Tidak usah pikirkan ending cerita ini seperti apa. Yang lalu memang masih tetap berada di hati, namun ‘besok’ itu memacuku untuk tetap bertahan agar aku dan semuanya tidak terperosok ke dalam jurang kekelaman.

5 Tanggapan to "Desember Tanpa Ending"

seperti lagu”gereja tua”
namanya juga cerpen karangan sendiri.
selamt berkarya

Saat ini bagaimana ??

Tentunya masih tetap bahagia kan dirimu dan keluarga Held4 tercinta ??😀

AMin …

Salam teruntuk orang2 yg dirimu sayangi🙂

ini fiksi atau non fiksi, Mbak..?
terima kasih sdh di publish..
kl sempat silahkan mampir ke blog saya http://classically.wordpress.com/

Keren. menarik sekali.
Salam kenal yah.
jangan lpa berku jung ke blog ku.
Fhay.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Logo Lomba Blog Remaja Kisara 2008

Dokumen

Stat (Agt'08)

  • 55,158 pengamat

Add to Technorati Favorites web stats PageRank Bloggerian
 Top Hits My BlogCatalog BlogRank 100 Blog Indonesia Terbaik

Click-click

Yuk.Ngeblog.web.id Blog Kisara

Recent Readers

View My Profile View My Profile View My Profile View My Profile View My Profile

RSS Beasiswa Scholarships

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS Curhat Online

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS Grill Recipes

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

Twitter Update

%d blogger menyukai ini: