Posted by: HeLL-dA on: September 12, 2008
Masa remaja memang selalu menjadi sorotan, tak terkecuali mengenai penyakit yang satu ini, AIDS (acquired immunodeficiency syndrome). Bagaimana tidak? Kaum muda adalah pribadi yang paling rentan untuk terinfeksi oleh virus yang bernama HIV (human immunodeficiency virus). Oleh karena itu cara paling tepat untuk mengurangi jumlah pengidap penyakit ini adalah dengan menyosialisaikannya kepada kalangan remaja sebagai upaya pencegahan.
Dari laporan di situs UNAIDS yakni Program Terpadu PBB untuk HIV/AIDS dinyatakan bahwa pada tahun 2007 ada 2,7 juta pengidap AIDS yang baru. Kemudian, dalam 27 tahun terakhir ini, virus HIV telah menyebabkan kematian 25 juta orang. Jumlah yang tidak sedikit tentunya! Kalau begitu mari kita kilas balik bagaimana strategi virus ini melumpuhkan sel dalam tubuh kita.
Disebutkan bahwa virus HIV ini dapat berkembang tanpa terdeteksi dalam waktu lama sebelum gejala serius penyakit tersebut kelihatan. Virus ini juga sanggup memprogram ulang DNA sel yang disusupinya untuk memperbanyak HIV lainnya.
Kita bisa perhatikan gambar berikut ini.
Untuk penjelasan lebih detail mengenai cara kerja HIV ini, Anda bisa klik di sini.
Memang kemajuan medis telah mengurangi perkembangan HIV, namun ingatlah sejumlah obat seperti ARV-antiretrovirus hanyalah memperlambat perkembangan dari infeksi HIV bukannya menyembuhkan. Lagipula, dari apa yang pernah saya baca, dikatakan kalau obat antiretrovirus ini tidak dikonsumsi secara teratur atau dapat dikatakan tidak mengonsumsi obat ini pad waktu yang telah ditentukan dapat menyebabkan kekebalan terhadap obat ini. Hmm… Repot sekali bukan?
Oleh karena itu, yang perlu kita lakukan adalah hanya ‘pencegahan’. Ya, penyakit ini sebenarnya dapat dicegah. Kita semua pasti sudah tahu apa-apa saja yang menjadi faktor menjangkitnya penyakit ini, antara lain adalah seks bebas, penggunaan jarum suntik (yang biasanya dilakukan oleh para pengguna narkotika) dan transfusi darah. Namun, perlu kita perhatikan dahulu beberapa mitos mengenai AIDS yang saya dapat dari berbagai sumber yakni sebagai berikut:
Pengidap AIDS terlihat sakit.
Dibutuhkan kira-kira 10-12 tahun bagi virus ini untuk berkembang dalam tubuh seseorang.
AIDS adalah penyakit kaum homoseksual.
Pada awalnya tahun 1980-an, AIDS pada awalnya diidentifikasi sebagai penyakit para homoseksual. Namun pada kenyataannya sekarang kaum heteroseksual juga terjangkit.
Seks oral adalah seks yang “aman”.
Sejumlah penelitian telah memperlihatkan bahwa seks oral dapat menyebabkan AIDS. Walaupun masih sedikit kemungkinannya, akan tetapi hal ini patut diperhatikan.
AIDS dapat disembuhkan.
Seperti penjelasan sebelumnya, antiretrovirus hanya dapat memperlambat perkembangbiakan virus HIV bukannya menyembuhkan. Lebih tragis lagi, di beberapa negeri Afrika, banyak yang mengira bahwa melakukan hubungan seksual dengan perawan dapat menyembuhkan penyakit tersebut.
Membuka diskusi mengenai homoseksualitas dan HIV di sekolah maupun di tempat lainnya dapat meningkatkan jumlah homoseksual dan penderita AIDS.
Ini dia hal yang paling penting! Sebenarnya, yang benar adalah seharusnya para guru dan orang tua menjelaskan risiko-risikonya dan terbuka mengajarkan pendidikan seks kepada para remaja.
Kembali lagi ke pembahasan pencegahan. Peranan orang tua sangatlah besar dalam hal pencegahan berkembangnya epidemic ini. Orang tua yang mengajarkan pendidikan seks dan narkotika kepada anak-anaknya akan sangat melindungi kaum remaja dari bahaya-bahaya epidemi ini. Rasa ingin tahu yang sangat kuat untuk mencoba seks dan narkotika kemungkinan besar akan telah ditekan!
Ada seorang remaja yang mengatakan begini: “Orang tua saya tidak menyinggung mengenai seks dan narkotika.” Ya, saya sendiri pun sering mengalaminya. Rasa-rasanya topik terutama mengenai seks harus dihindari. Jika begitu, sebenarnya seorang remaja bisa mengambil tindakan, bicarakanlah pada saat yang tepat kepada orang tua mengenai hal tersebut. Semoga artikel sederhana ini dapat bermanfaat!
September 12, 2008 pada 5:57 am
Setuju bahwa pendidikan seks harus dimulai dari keluarga kemudian sekolah. Dengan demikian anak2 sadar konsekuensi apa yg harus ditanggung untuk setiap tindakan mereka. Banyak orang merasa pembicaraan tentang seks masih tabu, ini dikarenakan pemikiran mereka SEKS = HUBUNGAN SEKSUAL. PAdahal kesehatan reproduksi juga termasuk sex education….