Posted by: HeLL-dA on: September 6, 2008
Kejadian 3:4, 5 berbunyi seperti ini:
“Ular itu menjawab, ‘Itu tidak benar; kalian tidak akan mati. Allah mengatakan itu karena dia tahu jika kalian makan buah itu, pikiran kalian akan terbuka; kalian akan menjadi seperti Allah dan mengetahui apa yang baik dan apa yang jahat.’”
Apakah Setan atau yang disebut ular yang semula itu berbohong? Sebenarnya tidak! Setan memang mengatakan hal yang sesungguhnya. Manusia memang menjadi seperti Allah namun bukan Allah. Manusia akhirnya memang bisa mengetahui apa yang baik dan apa yang jahat dalam artian mereka bisa menentukan apa yang baik dan apa yang jahat menurut mereka. Bukankah manusia akhirnya bisa memiliki kesanggupan itu?
Kemudian, bagaimana dengan kata-kata Iblis di awal tadi. Ular itu menyatakan bahwa manusia itu tidak akan mati jika mereka memakan buah tersebut. Iblis sedikit mengutak-atik kata-kata ini. Manusia memang tidak mati pada saat itu juga. Akhirnya, menurut saya pada saat itu, Iblis lebih cocok dikatakan licik.
Kalau begitu, apakah Allah berbohong sehubungan dengan perintahnya tersebut? Bukankah manusia tidak mati ketika memakan buah yang dlarang itu? Ya, memang manusia tidak langsung mati tetapi manusia telah mati di mata Allah. Mengapa? Kita pasti sudah tahu bahwa umur manusia tidak sampai 1000 tahun. Bandingkan dengan Mazmur 90:4 yang menyatakan begini:
“Bagi-Mu seribu tahun seperti satu hari, hari kemarin yang sudah lewat; seperti satu giliran jaga di waktu malam.”
Ya, umur manusia tidak mencapai satu hari. Bukankah ini sama saja bahwa manusia benar-benar mati setelah memakan buah terlarang tersebut?
————————————-
Klik juga yang berikut ini:
saya mungkin sedikit berbeda, penilaian saya sepenuhnya syetan (iblis) memang berdusta pada waktu itu terlepas apakah manusia akan seperti Allah atau tidak setelah memakan buah yang dilarang tersebut.
Masalah mengetahui yg baik dan yg jahat sudah menjadi “trade mark” pembuatan manusia itu sendiri, toh sebelum Allah “melaunchingkan” manusia, saat belum ditiupkan ruh, manusia dipajang di “broadway” jalanan para malaikat. Para malaikat yang melalui pajangan manusia tersebut ada yg tersenyum, mencibir, memuji, iri, dengki, acuh dan penilaian lainnya yg menjadikan manusia itu seperti sekarang.
Setelah manusia “launching” diantara malaikat yang diberi kelebihan Allah rasa iri dan dengki semakin menjadi sehingga ketika dia berhasil memperdaya Adam dan Hawa memakan buah terlarang itu dengan kebohongannya lantas dia pun memiliki sebutan baru, “Iblis”
Akhirnya mereka berempat (Adam dan Hawa, Iblis dan Istrinya) diusir ke dunia dan ditetapkan permusuhan Abadi antara dua ras yang berbeda itu, hingga sekarang.
Sifat Iblis tetap sama tidak berubah setelah jutaan tahun; iri dan dengki… sedangkan sifat manusia terus berfluktuatif, sesuai yang terjadi di “broadway” para malaikat waktu itu.
sebuah fiksi history… *ngarang nggak nih*
@Hakimtea..
Saya belum pernah mendengar sebelumnya kalo iblis punya istri..
trus kenapa pula dia juga turut diusir, bukankah yang salah iblis’nya, bukan istrinya?
Hel,
iblis, atau yang sering kamu sebut lucifer itu punya istri ga kalo dari alkitab atau tradisi orthodox?
met kenal, mu komen: yang pasti setan itu sebenar-benarnya musuh… mu bener, mu boong, sama aja, ngajak nemenin dia in the HELL…
September 6, 2008 pada 6:03 am
salam kenal thk sudah mampir di blog saya