Posted by: HeLL-dA on: Agustus 19, 2008
Di salah satu surat kabar kota Medan, hari ini saya mendapati tiga artikel dalam rubrik opini bertema sama yakni korupsi. Masalah yang memang tidak selesai-selesai dan tidak akan pernah selesai. Korupsi merupakan epidemi yang begitu menakutkan. Tentu kita akan setuju korupsi menjatuhkan kesejahteraan rakyat. Yang lebih tragis adalah korupsi malah lebih marak di negeri-negeri yang bisa dikatakan masih di urutan terbawah.
Menurut survei persepsi oleh Transparansi Internasional di tahun 2001, tiga belas negara yang paling korup adalah (disusun menurut abjad):
Azerbaijan, Bangladesh, Bolivia, Kamerun, Indonesia,Irak, Kenya, Nigeria, Pakistan, Rusia, Tanzania, Uganda, dan Ukraina.
(sumber id.wikipedia.org)
.
.
Sungguh tragis mengetahui negeri yang kita cintai ini masuk ke dalam daftar di atas. Perilaku korupsi telah mengalir di dalam darah orang-orang Indonesia. Belum lagi sebenarnya perilaku ini secara tidak langsung telah didukung. Saya membaca pernyataan di dalam rubrik yang saya sebutkan di atas kira-kira begini: “Yang tak mau disuap, tidak dipercaya!” Ya, orang-orang yang ingin berkukuh pun sulit untuk menampiknya. Dikarenakan oleh keadaan ekonomi sekarang ini, kejujuran sulit untuk dijinjing apalagi dijunjung!
Jadi muncullah pertanyaan yang pastinya harus dan akan terbersit dalam benak kita. Bagaimana kita menanggapi dan mengurangi angka korupsi di negeri kita ini?
Untuk menimbulkan efek jera kepada para koruptor, KPK mempertimbangkan agar diberlakukannya seragam khusus bagi para koruptor yang telah dijaring dan Nusakambangan adalah tempat yang cocok untuk mereka.
Sementara di beberapa sekolah, anak-anak didiknya diuji untuk bersikap jujur. Kantin kejujuran telah didirikan di beberapa sekolah. Di kantin ini tidak ada penjaganya. Para siswa harus bersikap mandiri, dia yang mengambil barang yang dia inginkan dan membayar sendiri. Yang dituntut adalah kejujuran! Apakah hati nurani masih peka? Apakah mau bersikap jujur walau tidak ada yang mengawasi?
Saya mengutip kembali kalimat dari id.wikipedia.org: ‘Titik ujung korupsi adalah kleptokrasi, yang arti harafiahnya pemerintahan oleh para pencuri, di mana pura-pura bertindak jujur pun tidak ada sama sekali.’ Jangan sampai seperti ini! Hilangkan semua dendam di masa lalu. Mungkin bangsa kita ingin merasakan bagaimana memiliki banyak uang, bisa bebas dan tidak ingin merasa terjajah oleh kemiskinan. Dijajah selama beberapa abad membuat bangsa ini ingin merasakan udara yang wangi. Atau mungkin orang-orang yang di atas dulunya adalah orang-orang di kelas bawah. Oleh karena itu dia ingin merasakan semua kenikmatan dunia ini. Namun ternyata tidak pernah puas!
Saya pun terciprat epidemi ini. Cipratan itu seperti cat yang susah luluh dari baju saya. Ada banyak godaan untuk menangkis korupsi kecil-kecilan. Otak saya sudah diprogram untuk mengikuti lingkungan saya. Lingkungan saya melakukannya, mengapa saya tidak?! Lagipula, kebutuhan akan uang menjepit saya! Itulah yang saya rasakan.
Namun masih ada beberapa ronde lagi yang masih kita punyai untuk mengalahkan perasaan tersebut. Jadi, gunakanlah kesempatan itu sebisa mungkin untuk melakukan yang terbaik! Intinya, mulailah membenahi diri sendiri dulu. Mulailah dari hal-hal yang kecil. Bukankah dari perkara kecil dahulu baru beranjak ke perkara besar?
Sengaja uangnya kaga’ usah yang bagus-bagus ditampilin, biar kaga’ ngiler! Hehe.. ![]()
(Gambar diambil dari photobucket.com)
Agustus 21, 2008 pada 2:52 am
artikel anda :
http://nasional.infogue.com/
http://nasional.infogue.com/korupsi_di_dalam_kemiskinan
promosikan artikel anda di http://www.infogue.com dan jadikan artikel anda yang terbaik dan terpopuler menurut pembaca.salam blogger!